Friday, 1 January 2016

Secebis Ingatan

Detik Itu

Nampaknya masing-masing berangkat kaki,
tetapi aku pula hala tuju pun tidak tahu,
tanpa sedar aku memintas langkah mereka,
aku yang tidak mengerti menurut sahaja.

Bunyi tapak kasut berladam itu,
irama itu menggangguku,
dalam diam menggamit perasaanku,
detik itu baru aku tahu.

Melihat mereka ketawa histeris,
sepatah apa pun aku tidak mengerti,
berdiri dan berdiam di sisi,
detik itu dia bukan asing lagi kini.



Reaksiku

Reaksi apa yang sepatutnya,
aku perlu tunjukkan?
Pabila,
"Hei, ada orang kirim salam!
Didengari 30 orang di sekelilingku.



Notifikasi

Notifikasi melompat-lompat,
aku segera balas,
keluar lagi notifikasi,
dengan gementarnya jemariku,
aku pula yang melompat-lompat,
demikian hari aku semakin hari,
semakin bisa tersenyum,
tidak sabar menanti,
notifikasi yang melompat-lompat.



Pipi Merah

Aku menunduk menghadap puisi,
puisi yang berisikan jiwa hati,
bahuku ditepuk memecah kayalanku,
gayanya tidak sabar mengkhabarkanku,
ceritanya entah mengapa mengujakanku.

Katanya orang itu sukakan aku,
siapa dia sebenarnya aku tahu,
soalnya apakah aku juga begitu?
pipiku merah lidah juga terkelu,
teringat kembali reaksiku dulu.



Chemistry

Omongan kosong kita dahulu kala,
masih aku ingat beratus minit pun aku mahu,
walau sekecil topik pun bisa mencuit hati aku,
Bahkan persamaan kita mewujudkan chemistry itu.

Post a Comment